SEMUA BERAWAL DARI... (kata itu diberi nama CINTA)

DIsarankan ...

aaaku. Powered by Blogger.

PROLOG

Tri Sulistyo Sebelumnya aku sampekan maap se-gede2-nya, kalo mungkin aja tulisan ato postingan banyak dari copas punya senior2 dan aku lupa ambilnya. Hingga gak aku cantumin sumbernya. Cuman satu yang aku yakinin bila bila senior semua ikhlas...
> > Syair Para Pecinta (antara bahasa jiwa & Sastra magic)

Syair Para Pecinta (antara bahasa jiwa & Sastra magic)

|
Syair atau yang kita kenal dengan sastra adalah bahasa jiwa yang syarat dengan perasaan dan ikrar tulus dari hati seorang penyair. Kata-katanya yang lembut & indah serta menyentuh mampu menggetarkan jiwa & membawanya hanyut tenggelam didalamnya. Hal itu menunjukan betapa tulus & halusnya kata-kata itu keluar dari hati seorang penyair hingga tak heran bila hal itu mudah merasuk dan meresap kedalam jiwa disebabkan karena dilakukan dengan segenap penjiwaan & perasaan yang timbul dari lubuk hati yang terdalam. Maka sangatlah masuk akal apa yang di katakan pepatah bahwa "sesuatu yang keluar dari jiwa akan mudah merasuk ke dalam jiwa. Sebaliknya sesuatu yang yang keluarnya hanya dari mulut saja maka ia tak ubahnya debu-debu yang bertebaran dengan sia-sia".
Untuk merefleksikan sebuah syair dibutuhkan imajinasi yang kuat serta perasaan & penjiwaan yang begitu mendalam. Dan hal itu biasanya akan mudah didapatkan ketika hati sedang diliputi oleh rasa cinta. Ketika kita sedang jatuh cinta, tentunya kita akan merasakan gejolak jiwa yang bergelora didalam dada. Kita pun akan di buatnya tak berdaya & digiring kedalam dunia maya yang penuh dengan ilusi belaka.
Ketika sudah demikian, kita akan mudah mengeluarkan kata-kata sebagai bahasa jiwa yang tertuang dalam bentuk syair yang begitu halus & indah. Sebagaimana yang terjadi pada Qais terhadap laila atau Robi'ah terhadap sang pencipta. Akibat dorongan yang kuat dari rasa cinta yang telah bertambat, mereka meluapkan perasaan cinta mereka lewat kata-kata yang terangkai menjadi bait-bait syair yang begitu indah yang mampu menggugah jiwa sebagai tanda betapa sangat mereka mencintai & menjiwai kekasih yang mereka cintai.
Namun dibalik semua itu, syair ternyata mampu mendatangkan kekuatan magic yang menjadi berkah bagi si penyair itu sendiri. Sebagai contoh yang terjadi pada imam Al-Bushiri (608-694 H/1212-1295 M) sastrawan sekaligus sufistik terkemula pada eranya dulu. Di tengah-tengah keputus asaan beliau atas pengyakit lumpuh yang di deranya, selain hanya bisa menangis & mengiba kepada sang khaliq memohon kesembuhan, beliau juga melantunkan bait-bait pujian dalam bentuk syair untuk RasululLah sebagai tanda betapa sangat beliau mencintai & merindukan syafaat baginda Nabi. Akhirnya pada suatu malam saat al-Bushiri terlelap, Rasulullah mendatanginya & mengusap bagian tubuh lumpuhnya dengan tangan beliau dengan penuh. Dan ajaib! Setelah bangun tidur al-Bushiri mendapati tubuhnya sudah sembuh seperti sedia kala.
Setelah al-Bushiri sembuh, keesokan harinya ia keluar rumah & bertemu tetangganya yang miskin yang sedang mengidap suatu penyakit. Kepada beliau ia meminta qasidah gubahannya untuk di jadikan obat, dan dengan izin Allah ia sembuh dari penyakit yang di deritanya. Pasca kejadian itu, banyak orang-orang sekitar berdatangan kepada al-Bushiri untuk meminta syair yang terangkai sebanyak 162 bait (yang sekarang dikenal dengan burdah) untuk di jadikan perantara memohon kesembuhan.
Hal yang sama juga di sampaikan syeikh sulaiman al-Bujairimi lewat cerita yang tertera dalam karyanya "Bujairimi ala al-khatib" bahwa pada suatu hari ada seseorang tengah asyik berenang dengan kekasihnya di sebuah lautan, tiba-tiba kekasih yg dicintainya tenggelam & termakan oleh lautan, ia kebingungan tak tahu harus berbuat apa. Dan ditengah-tengah kebingungannya itu, ia melantunkan sebuah syair sebagai tanda betapa sangat ia mencintai & tak ingin kehilangan kekasihnya.
wahai air .. Apa maumu ..? Sungguh engkau telah datang dengan kebalikan apa yang di kabarkan tentang dirimu .. Tentang keajaibanmu ..
Allah telah mengabarkan bahwa engkaulah sumber penghidup kami. Tapi, kenapa kekasihku harus mati olehmu ..?
Dan sungguh ajaib. Setelah ia selesai melantunkan syair, kekasihnya hidup kembali & muncul ke permukaan laut dengan izin Allah.
Dari berbagai ulasan diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa syair selain merupakan bahasa jiwa, juga merupakan sastra yang mendatangkan kekuatan magic yang membawa berkah bagi si penyair itu sendiri.
Menurut anda bagaimana mengenai artikel diatas ..?
Silahkan tinggalkan komentar anda!


Auto Backlink Gratis Indonesia : Top Link Indo
Bookmark and Share
Terima kasih Anda telah membaca Syair Para Pecinta (antara bahasa jiwa & Sastra magic). Mungkin Anda tertarik ingin membaca artikel ©Kejahatan dan Kemuliaan yang lainya?

Ditulis Oleh : tri sulistyo ~ Kejahatan dan Kemuliaan berawal dari CINTA

Tri Sulistyo Sobat sedang membaca artikel tentang Syair Para Pecinta (antara bahasa jiwa & Sastra magic) ini dipublish pada hari 15 November 2011. Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda. Oleh Admin, Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

Ingin artikel seperti Syair Para Pecinta (antara bahasa jiwa & Sastra magic) diatas langsung ke Email anda? Silahkan masukan alamat email anda untuk berlangganan :

0 Comments
Tweets
Komentar

Post a Comment

Lebih Bijak jika anda berkomentar..

DAFTAR ISI
Widget by Putra Q-Ae